Get a free hosting or choose from the Best Web Hosting service
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
*** Selamat Datang Di Website SMP Negeri 5 Batusangkar ***           *** Sekolah Dengan Program Layanan Keunggulan ***
Kepala Sekolah

Kepala Sekolah Periode 2015 s/d Sekarang

Drs. HADMADI SUCIPTA, M.Pd

Kepala Sekolah Periode 2007s/d 2015

Drs. ASRUL

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday891
mod_vvisit_counterYesterday127
mod_vvisit_counterThis week2113
mod_vvisit_counterLast week1806
mod_vvisit_counterThis month5417
mod_vvisit_counterLast month15381
mod_vvisit_counterAll days1750598

We have: 31 guests online
Your IP: 54.166.203.76
 , 
Today: Oct 18, 2017
KEJUARAAN SEPAK BOLA PELAJAR 2013


Get the Flash Player to see this player.

time2online Joomla Extensions: Simple Video Flash Player Module
Kegiatan di Labschool Kebayoran Jakarta


Get the Flash Player to see this player.

time2online Joomla Extensions: Simple Video Flash Player Module
Story Telling "Batu Tangkuluk


Get the Flash Player to see this player.

time2online Joomla Extensions: Simple Video Flash Player Module

Cerpen

CERPEN

The Story Abaout Me

Cerita Tentang Diri Ku

Dimalam yang sunyi… tepatnya hari minggu tanggal 15 April 1984, terdengarlah suara tangisan bayi mungil laki-laki, yang kata orang-orang waktu itu.. bayi laki-laki yang imut dan menggemaskan…

Suasana yang menegangkan pada waktu itu, pecah menjadi suasana yang bahagia diantara pasangan Ayah dan Ibunda tercinta

Kemudian bayi mungil itu diberi nama yang merupakan do’a keduanya yang berarti “seribu Kecerdasan”.. Pasangan itu berharap kelak putra bungsunya dari tujuh bersaudara ini menjadi manusia yang cerdas dan bijaksana… Amiiiin !

Itulah saat-saat ku dilahirkan kedunia ini, kata ibundaku tercinta padaku…

Si Bungsu (sapaanku sampai sekarang) hidup dengan terpaan kasih sayang ayah dan ibu tercinta… namun tatkala ku berumur 2 bulan, keluarga kami mengalami kejadian yang sangat mengejutkan, yaitu rumah kami yang amat sederhana ditimpa pohon kelapa yang tidak berdaun lagi alias kelapa yang mati akibat disambar petir beberapa waktu sebelumnya… secara ilmu pengetahuan alam apabila pohon kelapa yang tidak berdaun tumbang, maka akan lebih cepat pergerakannya dari pada yang masih memiliki daun. Hal itu disebabkan kurangnya pergesekkan dengan udara….....

Posisi tumbangnya pohon kelapa itu membelah rumah kami pas pada posisi ayahku tidur, hingga meremukkan tulang dada ayahku… kemudian aku yang masih sekecil itu telah mendengarkan suara yang amat keras, membuat pertumbuhanku terganggu… badanku kecil seperti berhenti tumbuh…

Huhhhh.. kejadian itu membuat suasana sunyi pada malam itu, pecah menjadi suasan yang mengejutkan kelurga kami dan para tetangga… namun kami tetap bersyukur kepada Allah, ternyata ayah yang amat kami cintai masih hidup… mulai dari kejadian malam itu ayahku mulai sakit-sakitan, bahkan sesekali ia batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya dan tidak dapat lagi melakukan pekerjaan berat-berat… tetapi karena ayahku banyak tahu dengan agama, maka ia menjalankan hidup dengan penuh kesabaran dan tawakkal kepada Allah SWT.

Ia mulai menghidupi kami sekeluarga dengan mengmbil porsenan dari menjalankan celengan kotak infak “surau” yang ada dekat rumah kami sekeliling kota Batusankar dan bertani… namun ia bertekad walaupun penghasilannya tidak seberapa, yang penting pekerjaan yang ia lakukan adalah pekerjaan yang halal…

Walaupun keadaan yang dilalui oleh kedua orang tua ku susah, namun kami tetap mendapatkan belaian kasih sayang dari mereka…

Pada saat umurku 4.5 tahun, kami sekeluarga kembali menghadapi kenyataan yang pahit namun harus dihadapi yaitu Ayah yang kami cintai pulang ke Haribaan Ilahi… kenyataan itu merobah status ibunda tercinta sebagai Janda dan kami 7 bersaudara menjadi anak-anak Yatim.

Pada saat ayahku meninggal, kakak ku yang paling tua masih duduk di bangku Madrasah Aliyah setingkat SMA, kakak ku yang ke- 2 dan 3 masih duduk di bangku SMP, sedangkan kakak ku yang ke- 4, 5 dan 6 duduk di bangku SD…

Begitu pahit kenyataan yang kami hadapi terutama Ibunda tercinta.. ditinggal suami tercinta pada saat anak-anak dari buah cinta kasih sayang mereka, sangat mengharapkan perlindungan seorang ayah dan masih di bangku pendidikan yang tidak sedikit memerlukan biaya…

Ketika ku bawakan ke diriku ini, hal yang paling membuatku sedih tatkala ku melihat teman-teman sebayaku yang sangat bahagia, dapat melihat, dapat merasakan kasih sayang dari sosok seorang ayah. Kemudian ku bawakan kediri ini.. air mata mengalir, hatiku sedih dan menjerit sedalam-dalamnya : “kenapa aku tidak seperti mereka ???”… Ya Allah… Ya Rabbii… remuknya hati ini mengenangnya…

Secepatnya aku hibur hati ini dengan mengenang kata ibunda tercinta : saat-saat ku waktu Balita dulu, aku sangat disayang oleh Almarhum ayah… tapi jujur aku merasakannya samar-samar… jangankan merasakan belaian kasih sayang ayahku, wajah ayahku yang teduh, penuh kasih sayang itu samar-samar dalam memory ini… Subhanallah… karena memang pertemuan ku dengan ayah tercinta hanya dalam rentang 4.5 tahun.

Hal yang kedua untuk menghibur hati ini adalah dengan mengingat kembali sejarah Rasulullah SAW yang terlahir dalam keadaan yatim, bahkan lebih sedih lagi dari diri ini, Beliau telah yatim semenjak dalam Rahim ibu-Nya, namun ia tetap tegar dalam menghadapi hidup ini…

Itulah dua hal yang kulakukan saat hati ini sedih mengenang tentang sosok ayah yang sangat ku cintai dan ku banggakan…

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun… hidup ini kami jalani dengan penuh kebersamaan dan kasih sayang. Ibunda tercinta berperan sebagai “Single Parent” (orang tua tunggal)…menjalani hidup ini dengan penuh keikhlasan, sabar dan tabah serta ulet berusaha…

Beliau mendidik kami semua untuk hidup mandiri dan jangan berpangku tangan pada rasa iba dari orang-orang sekitar… kami diajak untuk belajar bercocok tanam di sawah, sawah yang kami olah adalah milik orang yang diserahkan kepada keluarga kami untuk menanaminya, kemudian hasilnya dibagi dua… kakak perempuanku  yang sulung dan nomor lima diberi tugas untuk membantu ibunda tercinta untuk menyiapkan kebutuhan makan kami sekeluarga dan menolong ibunda kesawah…ibunda tercinta juga mengajari kami untuk memelihara ternak sapi, walaupun sapi yang dipelihara itu adalah sapi milik orang “Ombilin” dekat danau Singkarak yang baik hati dan keuntungan dari pemeliharaan sapi itu yang di bagi dua dengan pemiliknya… kedua kakak laki-laki ku yang ke 2 dan ke 3 bertugas untuk menyediakan makanannya. Dan kakak laki-laki ku yang ke 4 bertugas untuk mengembalakan sapi itu…

Kemudian aku mulai bertambah besar… kemudian aku juga di didik untuk memelihara kambing bersama dengan kakak yang ke 6 walaupun tugasnya tidak seberat memelihara sapi, tapi itulah yang pantas untuk anak sekecil ku berbuat… Alhamdulillah ternyata dengan bimbingan ibunda dan kakak-kakak, kami sekeluarga berhasil mendapat keuntungan dari pemeliharaan kambing itu, dan mendapatkan keuntungan.. keuntungan itu kami nikmati bersama-sama dengan membeli kursi tamu yang menurut kami amat bagus dan mewah…

Terpaksa atau tidak… dengan tanggung jawab yang aku pikul ini, membuatku jarang main bersama teman-teman sebaya ku… karena waktu main kami pas pulang sekolah, tapi pas mereka asyik bermain di tempat biasa kami bermain, tepat pada waktu itu aku pun menjalankan tugas dari ibunda dan kakak-kakak ku… makanya aku sering main dan bersenda gurau dengan teman tatkala mau berangkat mengaji ke Surau sebelum maghrib dan sepulang mengaji… namun keadaan itu aku terima dengan sabar, karena keadaan…

Aku masih ingat pesan dari salah seorang kakak laki-laki ku berkata kepada ku : “kamu harus sadar dan tahu kalau kita adalah anak yatim dan kita keluarga yang tidak punya banyak harta.. jadi kakak berpesan kepada kamu harus rajin-rajin bantu ibunda kita dan kakak-kakak yang lain dan yang harus kamu ingat-ingat juga adalah kita ini anak yatim, yang tidak ada ayah yang melindungi, mengajari dan mengayomi kita seperti orang lain.. dalam kehidupan di masyarakat, terkenal biasanya anak yatim itu nakal, jahil, suka buat hal-hal yang kurang disenangi orang lain, karena memang anak yatim tidak ada ayahnya… maka kakak mintak kepada mu untuk membalikkan anggapan yang telah jadi rahasia umum itu.. kamu harus jadi anak yatim yang baik di tengah-tengah masyarakat, jangan pernah buat malu keluarga kita, malu almarhum ayah kita yang di kenal alim dalam masyarakat, ingat kedua kakak kita yang telah jadi Guru Ngaji di Surau… ”. itulah ungkapan dajal (sapaanku kepadanya) saat ia pualng dari Rantau, yang kata-katanya menjadi pengingat bagi diriku setiap bertindak di tengah-tengah masyarakat, dan aku selalu bertekad dan berkata pada diri ku bahwa Aku harus jaga nama baik keluargaku dan tidak akan buat almarhum ayah dan kedua kakakku malu atas tingkah laku ku di masyarakat… dan itu semua ku jalani dengan sabar dan penuh kebahagiaan.

Kakak  ke-4 adalah kakakku yang sangat berjiwa besar, karena ia mau berhenti melanjutkan sekolahnya setamat dari SD… ibunda ku bilang padaku bahwa pada suatu malam dajal berkata pada ibunda, : “mak.. saya tidak usah nyambung sekolah lagi, biarlah kakak-kakak dan adik-adik saja yang sekolah.. saya akan mencoba bekerja dan mencari uang.. dan itu adalah tekad saya mak”. Karena mendengarkan tekad kakak ke-4 ku seperti itu, ibundaku menyetujui permintaan nya dengan mengatakan, “asalkan kamu jangan nyesal dengan keputusan yang kamu ambil”.

Itulah ke’arifan ibundaku, dia selalu menghargai usulan dan pendapat anak-anaknya dan tidak pernah memaksakan kehendaknya, karena ibunda berprinsip.. tidak baik memaksakan kehendak kepada anak, karena anak akan melakukan kehendak itu dengan tidak ikhlas, maka sering gagal di tengah jalan dan kalau anak gagal setelah mengikuti kehendak orang tua, maka orang tualah yang paling salah.

Karena ke-4 adalah satu-satunya, kakakku yang sudah bisa menghasilkan uang pada waktu itu, maka aku sering minta uang dan kebutuhan-kebutuhanku diwaktu itu. Dia adalah tempat meminta apa yang ingin kumiliki setelah ibunda, bahkan sampai sekarang.

Hari demi hari, hidup ini kami jalani penuh kebahagiaan.. kebahagian yang kami rasakan itu adalah kebahagian hati dan perasaan… kalau masalah ekonomi, kami masih tergolong kepada keluarga yang bisa dikatakan keluarga miskin… karena kakak sulungku pernah menceritakan kepada ku bahwa karena kehidupan kami yang amat sederhana. Setelah ia bersama ibunda dan kakak sepupuku yang dengan ikhlas membantu kami menyiapkan makanan untuk kami sekeluarga. Maka kakak ku yang sulung bertugas untuk membagi dengan pas makanan yang ada menjadi 9 bagian. Masing-masing kami mendapat satu bagian makanan, dan terkadang tidak ada jatah untuk nambah… walaupun kehidupan kami seperti itu adanya, namun kami menjalaninya dengan penuh syukur pada Ilahi Rabbii…

Oh ya… aku ingat cerita Ibunda tercinta kepada kami waktu kami makan bersama… dengan keadaan yang kami hadapi… ternyata pada suata hari ada tetangga kami yang kasihan melihat keadaan kami, dan berkata kepada ibunda… “lebih baik masukkanlah anak-anak mu ke Panti Asuhan”. Namun mendengarkan ungkapan tetanggaku itu, ibunda menjawab dengan penuh kesabaran dan lembut seraya berkata : “terima kasih atas nasehatnya.. namun selama nafas saya di kandung badan, saya tidak akan memasukkan anak-anak saya ke Panti Asuhan.. saya akan merawat, mendidik, dan memenuhi kebutuhannya sekuat tenaga, agar bisa menjadi anak-anak yang baik dan berguna untuk agama dan bangsa”… dan ibunda memenuhi ucapan yang telah ia ikrarkan… karena beliau berhasil mendidik kami… Alhamdulillah.

Begitulah ketegaran ibunda kami yang tercinta dalam mengarungi kehidupan ini. Beliau mengajari kekompakkan dalam keluarga dengan bijaksana… kami merasa, disamping ibunda kami adalah ibu rumah tangga, beliau juga seorang Pemimpin yang berhasil meletakkan posisi seseorang pada kemampuan dan meminta pertanggung jawaban dari kami sesuai dengan job masing-masing… beliau sangat tegas dalam mendidik kami, namun tetap penuh kasih sayang… ”Ya Allah… terima kasih ku ucapkan, karena engkau telah memberikan kami seorang bunda yang terbaik di seluruh dunia…”

Dalam mengarungi kehidupan, aku sangat di bimbing oleh ibunda dan kakak-kakak… mereka tidak mau aku jatuh pada pergaulan yang salah dan tindakan-tindakan yang memalukan… ibunda selalu mendidik untuk mengerjakan hal-hal yang baik dan marah sekali kalau aku berbuat salah..

Ibunda setiap saat, setiap detik, selalu mencurahkan kasih sayang kepadaku, mendidikku dengan penuh kesabaran, namun tetap tegas apabila ku melakukan kesalahan. Aku masih ingat tatkala beliau memukulku dengan tangkai sapu sejadi-jadinya tatkala aku melakukan kesalahan, kesalahan itu adalah karena kami belum memiliki Televisi alias TV, maka aku diajak oleh teman menonton, namun waktu itu listrik mati, maka kami berfikir untuk tetap nonton, yaitu menonton ditempat mak tuo ku yang TV nya menggunakan Accu alias AKI… kemudian kami pergi kerumah mak tuo ku untuk nonton. Ternyata rumahnya berkunci dan tidak ada satu orang pun disana.

Karena keinginan kami kuat dan telah dipengaruhi syetan, maka kami beranikan diri untuk masuk rumah itu melalui “kandang rumah” itu. Kami menyelinap masuk rumah itu bak seorang maling…kemudian kami hidupkan TV nya untuk nonton. Ternyata keesokan harinya hal itu diketahui oleh ibunda, ntah siapa yang memberi tahukannya… ketika aku sedang main-main di rumah tetangga, kakakku daaf datang menghampiri ku dan berkata ibunda memanggilku, karena ibunda kan memberikan hadiah pada ku “ujarnya”…

Dengan hati riang ku pulang dan menghampiri ibunda… setelah ku datang padanya, beliau menyuruhku dengan lembutnya untuk makan terus aku langsung makan. Setelah aku selesai makan, mulailah beliau bertanya, “benar kamu nonton dirumah mak tuo kemaren dengan masuk melalui kandang rumahnya?”, dengan santai aku menjawab iya mak… aku melihat ibunda marah besar dan memukulkan tangkai sapu ijuk ke kakiku, dengan pukulannya yang bertubi-tubi, membuatku kesakitan dan meraung-raung serta menangis sambil mintak maaf padanya… dengan melihatku yang telah menangis tersedu-sedu dan merengek-rengek minta ampun, maka ibunda berhenti memukulku dan berkata dengan keras : “jangan pernah kamu ulangi perbuatan yang memalukan itu, amak merasa kamu berbuat seperti seorang maling”… dengan penuh penyesalan aku menjawab untuk tidak akan mengulangi lagi….

Terus ibunda pergi keluar rumah untuk melepaskan amarahnya, setelah amarahnya reda lalu beliau menghampiriku yang duduk termenung sambil terisak-isak, lalu dengan sayangnya beliau memelukku dan berkata “amak tidak benci kepadamu, amak sayang sekali padamu, tapi amak tidak suka melihat sikap dan perbuatan mu yang layaknya seperti maling… malu rasanya diri amak, yang seperti tidak mengajari kamu hal-hal yang baik-baik yang akan kamu lakukan…”. Kemudian beliau usap dengan lembut wajahku yang penuh dengan air mata… oh..oh.. betapa sayangnya ia padaku… Ya Allah… hilang rasanya rasa sakit yang pukulan tadi…

Maka dengan selalu mengingat-ngingat betapa sayangnya dan besar jasa ibunda padaku, maka aku berikrar untuk tidak akan membuat ia kecewa dengan sikap, tindak tandukku dimasyarakat… bahkan ku berjanji untuk selalu patuh dan taat kalau ia meminta ntuk menolongnya…

Sejak aku beikrar seperti itu, aku berusaha untuk selalu menolongnya, walaupun aku juga dalam melakukan kegiatan ku sendiri… sewaktu aku sekolah di Tsanawiyah di pasar, rasanya aku ditantang terhadap apa yang telah ku ikrarkan. Ibunda memintaku sepulang dari sekolah untuk membelikan alat-alat dapur, seperti cabe, bawang, tomat, buncis, dll… yang dalam masyarakat kita kenal pekerjaan itu adalah pekerjaan anak perempuan dan ibu-ibu…namun perasaan malu itu aku tepis dengan mengingat-ingat jasa dan kasih sayang bunda padaku…

Alhamdulillah… hari demi hari bahkan sampai aku berumur 26 tahun, itu tetap aku lakoni sebagai wujud rasa terima kasih dan baktiku padanya… aku berusaha setiap saat mendahulukan kepentingan ibunda diatas kepentingan manusia yang lain dan aku akan mengerjakan apa yang buat ia bahagia… bahkan aku rela tidak ngajar ngaji demi melakukan apa yang ia minta aku menolongnya…

Sekarang, setelah ku berada jauh darinya…aku hampir setiap saat meneteskan air mata, jika mengingat belum seberapa yang dapat kulakukan untuk berbakti pada ibundaku tercinta, dan aku terkadang sering memikirkan susahnya beliau ketika aku tidak dapat menolongnya karena kami dibatasi jarak yang lumayan jauh… dan muncul perasaan yang kurang baik pada hatiku bahwa “apakah kedua kakakku yang dekat dengannya bisa melakukan apa yang biasa ku lakukan pada ibunda tercinta???” karena aku tau mereka sangat sibuk dan telah punya keluarga sendiri… kadang muncul sikap ku yang ingin mendikte mereka tentang sebuah hadits Rasulullah ketika peristiwa yang di alami oleh Al Qamah… Rasulullah SAW bersabda kepada setiap anak laki-laki… “Barangsiapa diantara kalian yang lebih sayang dan memenuhi kehendak isteri kalian dari pada ibu kalian dan membuat kalian lalai kepada ibu kalian, maka Allah tidak akan meredhoi kalian dari dunia hingga akhirat…”.

Setiap ku selesai shalat lima waktu di tempat kerja yang baru ini, aku selalu berdo’a hingga air mata ini menetes dengan sendirinya :“Ya Allah… Ya Rabbi… berikanlah kesehatan kepada amak…lapangkanlah dan tabahkan hatinya karena aku berjauhan dengannya… lancarkan segala urusan dan kegiatannya…berikan kebahagian padanya… amin ya Rabbal ‘Alamiiin

Kakak sulungku  adalah kakak perempuanku yang tegas dan sangat menyayangi adik-adiknya. Dia berbuat, berlaku di dalam keluarga besar kami, layaknya seorang ibu, maka ndak salah pula kalau ibunda mempercayai kepada uni untuk menggantikan posisinya bila ibunda pergi kerja ke Rice Miling.

Ada kenangan yang terindah yang aku rasakan bersama nya yaitu ketika aku merengek untuk punya sandal baru, dengan penuh kasih sayang ia langsung menjanjikan untuk membelikannya. Sedangkan ia dalam keadaan yang tidak punya uang, karena kakak sulung mengajar di Muhammadiyah hanya sebagai sukarelawan, namun demi sayangnya ia padaku sandal itu ia belikan dan memberikannya padaku.

Kemudian yang membuat air mata ini mengalir mengenang kejadian yang paling berkesan dengan nya adalah demi menghilangkan kesedihan yang kurasakan tatkala ku wisuda. Di acara wisuda itu aku berharap seluruh kakakku hadir, namun karena ketetapan Allah… dia harus balik lagi ke Sawah Lunto, karena anak-anaknya akan sekolah, dan dia juga akan masuk sekolah juga. kakak ke-2 ku anak keduanya lahir tatkala prosesi ijab Kabul Kakak ke-6 yang diatas aku dan setelah acara pesta nya, dia tentu harus menemani istrinya dan anak yang baru hadir kedunia tanpa kehadirannya waktu itu. Dami kebetulan siap acara pesta kakak ke-6 mendapatkan SK jadi Juri MTQ tingkat Kabupaten Tanah Datar. Dan ia harus pergi jadi juri dan tidak bisa hadir di acar wisuda ku. Tentang kakak ke-4, pas pesta pesta kakak ke-6, ia dapat telpon dari istrinya bahwa buah hatinya sakit dan tidak mau tenang dengan ibunya, dia selalu panggil-panggil ayahnya, maka kakak ke-4 pun harus balik ke air molek. Sedangkan kakak perempuan ku yang merupakan kakak ke-5 waktu itu sedang berada di rumah persalinan, siap melahirkan putranya,,,,,maka dengan penuh kesedihan aku melepas kakak-kakakku pergi ke tempat masing-masing, namun dengan segera kakak ke-6 yang baru selesai pesta menghiburku, bahwa dia siap untuk tidak jadi juri bersama kakak ke-3 untuk menghadiri wisudaku.

Esoknya sewaktu aku mau berangkat ke kampus dengan pakaian toga kebanggaan seorang sarjana.. eee ternyata uni datang dengan suaminya yang sama-sama berpakaian dinas. Ia berkata asalkan aku senang dan tidak bersedih di hari yang bersejarah ini, maka uni beranikan mintak izin kepada kepala dan kakak iparmu mintak izin kepada atasannya untuk menghadiri wisudamu...

Ketika ku mengenang kakakku yang ke-2,dia seorang kakak yang selalu mengajarku dengan nilai-nilai agama, kata ibunda.. gaya dia mendidik adik-adiknya sama dengan almarhum ayahku, yaitu penyayang dan sangat tegas dan marah kalau kami salah.. pada suatu hari ia pernah bicara padaku bahwa “Dosa yang paling besar setelah durhaka kepada Allah SWT dan Rasul SAW adalah durhaka pada ibunda kita”.. kemudian dia katakana padaku untuk selalu berbuat baik dan patuh serta bergaul dengan ibunda dengan sopan santun.. kemudian ku berjanji kepadanya untuk mengamalkan apa yang ia ajarkan.

Tapi…apa dosaku.. diwaktu mak Tuo (kakak tertua ibunda) ada acara mendoa, dan ketika ibunda dan beberapa family ku yang perempuan lainnya sedang memasak Rendang di dapur.. karena harumnya aroma masakan itu, membuatku terpancing untuk menghampiri dapur yang merupakan sumber aroma itu. Sesampainya aku di dapur, kebetulan rendang itu pas masak.. aku pun mulai merengek dan menggoda untuk mencicipi rendang itu.. namun permintaan ku di tolak mentah-mentah oleh ibunda ku, dengan perasaan sedih dan kesal ku berpaling dari sana dengan berkata “eee hey yeh…”.

Diluar dugaanku, ternyata Mak angah (kakak ibunda yang nomor dua) mendengarkan kekesalanku dan sayangnya ia pun salah dengar apa yang aku ucapkan.. ia mendengarkan aku berkata “he..ngkau” kepada ibundaku, lalu ia memberi tahukan hal itu pada ibundaku, sehingga ibunda marah dan besok paginya ibunda menyuruh kakak ke-2 . Ternyata kakakku marah besar mendengarkan penyampaian ibundaku yang informasinya salah dari mak angahku itu… huhh apesnya..

Karena menurut kakak ke-2 salahku sangat besar, maka ia menghukumku dengan hukuman yang berat pula agar aku tidak berani lagi berbuat salah. Hukumannya adalah aku diikatkan ke tonggak kayu rumah ku, lalu dengan marah besarnya ia mencambukku dengan ikat pinggang… aku meraung-raung, menangis dengan kerasnya… di dalam hati hanyalah ada kekecewaan, kekesalan terhadap informasi yang salah itu… melihatku meraung-raung dan menanggis sejadi-jadinya, maka kakak ke-2 ku merasa hiba dan kasihan… (sama betul dengan karakter almarhum ayah, walaupun ia marah besar tapi tetap punya rasa hiba…).

Kemudian ia melepaskan ikatanku dari tonggak rumah dan memberiku segelas air minum, kemudian ia keluar rumah dan pergi berwudhu’… setelah ia kembali ke dalam rumah, ia langsung memeluk dan menghiburku kembali, agar aku tidak dendam kepadanya… sekarang, setelah aku jadi guru, aku baru paham tindakan kakak ke-2 tadi, setelah kita terlanjur marah, untuk meredam amarah yang sering diboncengi oleh syetan adalah dengan berwudhu’ dan sekiranya belum reda amarahnya maka lakukan shalat sunnat 2 rakaat.

Oh ya… masih segar dalam ingatanku, kemarahan kakak ke-2 yang luar biasa itu dua kali aku alami, karena beberapa tahun setelah itu juga aku pernah melakukan kesalahan yang besar, yaitu aku pernah hampir membuat mata anak gadis tetanggaku menjadi buta… karena pada waktu aku kecil, kami main pistol-pistolan yang kami buat sendiri seperti bentuk pistol asli dari papan dan pelatuknya dari tarikan karet yang di tarik dari ujung pistolnya, pelurunya pun dari alam yaitu buah akaran-akaran yang hamper mirip dengan peluru. Jadi gini… pada saat kami bermain-main bersama di tepi jalan raya, lalu ada tetanggaku lewat dengan motor bersama anak gadisnya yang umurnya 1 tahun diatasku… karena pengaruh syetan di hatiku ini, tangan ini reflek saja menembakkan pistolku ke arah motor yang lewat itu. Astaghfirullah….. ternyata peluru yang lepas tadi mengenai bagian yang dekat dengan mata anak gadis itu, sehingga anak itu terkejut dan menangis kesakitan.

Hal itu diadukan ayah gadis tadi ke kakak ke-2, karena ia kakak laki-laki tertua di rumah kami. Maka kakak ke-2 langsung memanggilku dan bertanya apakah benar aku yang melakukan yang di adukan bapak itu. Lalu aku dengan ketakutan jawab “benar wan”. Langsung kakak ke-2 merampas pistol-pistolanku yang terbuat dari papan itu dan memukulkan sekuat-kuatnya pada kakiku, “Paaaar”…. Haaaaaaah… aku berteriak kesakitan dan menangis dan ia pukulkan satu-satunya mainanku itu ke batang jambu dekat rumah hingga patah… kemudian aku ditarik kedalam rumahdan di ikatkan lagi ke tonggaok rumah dan di cambuk lagi… sakit tidak tertahan lagi, lalu aku mintak maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi… hatiku sedih, namun itupun karena kesalahanku juga dan aku menjadi nyesal karena kenakalan sendiri.

Akhirnya kakak ke-2 mengajak ku pergi kerumah tetangga itu dan mintak maaf atas kesalahanku, Alhamdulillah… bapak dan gadis itu memaafkan ku…

Lain halnya kalau aku mengingat kasih sayang kakak ke-3 ku,dia adalah kakak ku yang punya cara lain untuk mendidikku untuk beragama dan berakhlak. Sikap kandaku itu yang paling melekat pada hatiku adalah ia orangnya sangat mudah menangis tatkala ibunda dan kakak adiknya kesedihan, tegas, kongkrit, pemarah, tetap tegar pada situasi apapun, kurang senyum dikit tapi tetap ganteng dan berwibawa…hehehe

Ketika kakak sulung, kakak ke-2 telah merantau seperti kakak ke-4…kakak ke tiga ku inilah yang otomatis beliau bertindak sebagai kepala keluarga bersama ibunda. Karena jiwa pemimpin yang ia miliki, kami selalu mengadukan segala kendala dan kesulitan yang kami alami padanya… tapi ku jujur, ketika ku belum mengetahui betapa sayangnya dami padaku dan kakak yang lain, aku sangat sering mendongkol padanya… karena sikap kerasnya kepada kami. Tapi sekarang aku sadar bahwa sikapnya yang keras mendidikku bukan karena ia benci melainkan ia sangat sayang kepada ku…

 

Kalau ku kenang gaya dia mendidikku mengalir rasanya air mata ini… dulu ia mendidikk..kalau aku salah dia menghardikku dengan kata-kata yang tegas, bahkan sampai menampar kakiku dengan tangannya yang kuat, dan bahkan karena kenakalanku dulu, dia pernah emosi dengan memukulku pas pada tumitku dengan tangkai sapu lidi… duh sakit… bahkan sakitnya sampai ku rasakan selama 2 bulan, tapi karena aku yang salah ku tahan dan ku diamkan saja… duh jadi malu !!!

Tetapi yang sering menghilangkan sikap dongkol ku padanya adalah ketika ia memarahi ku dengan keras, dia sanggup minta maaf.. itu sikap yang jarang bisa dilakukan oleh orang yang besar pada yang lebih kecil.

Sekarang… mengingat hasil didikannya, rasanya ingin aku memeluknya kuat-kuat dan menangis di pundaknya… karena sebagian besar yang ku miliki dan keberhasilan yang ku nikmati ini adalah hasil dari nasehat-nasehat yang ia berikan padaku.

Aku ingat… Pada waktu ku boncengan dengan motor Honda Cup 70 miliknya dulu, dia memberikan sindiran yang jadi motivasi dalam diriku, dia ngomong kepadaku “ada nggak niatmu punya motor sendiri kayak kakak ini ?”, kemudian dengan ringan ku jawab “ada da”… dalam pikiran ku, kalau aku menjawab seperti itu, dia akan mau ngajari ku mengendarai motor itu.. Heeee dia malah ngomong padaku… makanya rajin nabung yaaa. huhhhh… hati ku lemas mendengarnya.

Tapi dahsyatnya yang kurasakan, sewaktu ku tidur-tiduran di kasur pada malam harinya… hatiku membenarkan apa kata-katanya tadi. Mulai malam itu aku berikrar dalam hati ntuk mulai menabung. Alhasil… pada tahun 2002, uangku sudah terkumpul 1.5 juta. Dan ku mintak tolong pada paman untuk mencarikan Honda Cup 70, ternyata harga Hondanya 2.5 juta, maka aku mintak tolong pada kandaku daaf untuk meminjamkan tabungannya 1 juta dan ia menyanggupinya.

Kemudian ketika aku sekarang menjadi CPNS di Kab. Sijunjung ini, tidak terlepas juga dari andil kandaku yang ke tiga karena dulu waktu mau masuk STAIN, kandaku ini lah yang pertama nanya padaku untuk ngambil jurusan apa ? karena dia menyarankan ku ntuk ngambil jurusan PAI. Tapi karena aku sering berseberangan dengan dia, aku menjawab dengan tegas.. aku tidak mau jadi guru dan aku melihat tamatan PAI banyak yang nganggur, biarlah aku ngambil jurusan baru yang notabene tamatannya akan bekerja di Bank… dan cita-citaku memang ingin jadi pegawai Bank yang selalu berbaju kemeja rapi dan berdasi. Maka daaf nyerah aja karena malas melawan pembicaraanku.

Singkat cerita setelah 5 semester ku di jurusan Ekonomi Islam, ternyata nilaiku biasa-biasa saja. Tepat pada bulan nan suci (Ramadhan), sepulangku dari Tim Ramdhan Kabupaten Tanah Datar, aku melihat dami dengan guru agama kami di surau sedang duduk-duduk bercerita di kursi tamu, kemudian ku bergabung dengan mereka, trus dami dengan yakin menanyakan tentang jurusanku, numun dia menyuruh saya pindah jurusan ke PAI yang notabene tamatannya akan dipersiapkan jadi guru agama islam. Kemudian belum sempat ku berfikir apa yang dikatakan oleh dami padaku, pak anduang (guru agama kami) menambahkan dan seakan-akan mematahkan semangatku kuliah di jurusan Ekonomi Islam itu… dengan kecewa malam itu kulalui dengan tidur di lantai rumah.

Diluar dugaan lagi, kata-kata kakak ke-3 terfikir olehku sesudah makan sahur bersama…kemudian ku berfikir selama 3 hari, maka aku memutuskan untuk pindah jurusan ke jurusan PAI. Waktu terus berlalu, dan Alhamdulillah… akhirnya aku tamat juga dari STAIN dengan memboyong gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I). namun sebelumnya, sewaktu ku nyusun skripsi, aku slalu di bimbing untuk mulai mengajar pendidikan agama islam di sekolah tempat dami mengajar… bahkan pada akhirnya, dengan izin Allah SWT…aku diberi nikmat dan sekaligus amanah untuk menjadi CPNS. Kalau tidaklah karena izin Allah SWT dan bimbingan serta saran dami pada malam itu, Wallahu a’lam aku bisa jadi guru PNS di sijunjung ini.

Lain pula kesan pula kesan-kesanku yang wajib pula kukenang sampai diri ini mati, yaitu kesan bersama kakak perempuanku nomor lima semenjak kakak perempuanku yang sulung dialah yang menggantikan posisi kakak sulungku. Berkat izin Allah, dia yang selalu memberikan kami kelapangan tatkala kami sekeluarga lapar alias dengan keringat nyalah makanan nan lezat lagi bergizi tersedia untuk kami santap sekeluarga… dimanapun aku makan di tempat lain, tidak ada masakan yang seenak dan selezat masakannya. Dia selalu yang membuat penampilan kami bersih dan rapi, ketika aku pergi sekolah, tampak gagah dan rapi betul, itupun berkat keringat nimis yang dengan ikhlas mencucikan dan menyetrika bajuku.

Sekarang aku baru merasakan, walaupun ia adalah seorang kakak bagiku, namun posisi dan yang ia perbuat padaku, seakan ia menjadi orang tua pada anaknya… seandainya aku menyadarinya sejak dulu, maka aku tak kan pernah berani melawan dan dongkol padanya. Ya Allah Ampunilah dosaku pada kakak perempuanku. 

Karena jasa dan kasih sayangnya pada kami semua, pada saat Allah SWT memberinya jodoh, maka pada bulan suci Ramadhan akad nikahnya dilangsungkan. kemudian kami sekeluarga bertekad untuk mengadakan pesta yang lumayan besar, sampai-sampai ibunda dan kakak-kakakku berusaha untuk pestanya menyemblih seekor sapi selepas lebaran Idul Fitri 1430 H.

Namun setelah 10 bulan ia bersuami, tibalah saat-saat yang membahagiakan, yaitu lahirlah putranya yang pertama, yang aku sendiri yang memberikan nama itu padanya. Hamid lahir dua hari setelah pesta daaf dan sehari sebelum ku di wisuda di STAIN. Dan itu pulalah salah satu yang membuat suasana hatiku bahagia bercampur duka saat wisuda, karena orang yang selama ini yang telah menyediakan makanku, membuat pakaianku bersih dan rapi, tidak bisa menyaksikan pengukuhan gelar sarjana bagiku.

Terakhir kenangan yang terkadang buatku menangis sendiri adalah kenangan bersama kakakku diatasku dia nomor 6 dan aku nomor 7. Dalam memori ini, yang sering muncul adalah aku sering melawan kepadanya dan sering cek cok dari dari kecil sampai dia akan berkeluarga. Namun entah itu yang buat kami dekat dan sering aku merasakan tatkala ia tidak dirumah, aku menjadi rindu dan aku merasakan ada yang kurang dalam diri ku ini.

Setelah ia telah berpenghasilan sedikit demi sedikit, dia sering memberi ku uang tanpa aku mintapun, dan yang paling berbekas dalam ingatan ini adalah pengorbanannya pada ku, ketika ku membeli motor di waktu aku sekolah di MAN dulu… waktu aku akan membeli motor uangku kurang satu juta, dan aku mintak ia meminjamkan tabungannya, akhirnya karena kebaikan hatinya dan persaudaraan yang telah tertanam pada kami, kandaku itu mau mengambil uang tabungannya untuk di pinjamkan kepadaku, walaupun dia sendiri belum punya motor… tidak ada sedikitpun aku merasakan dia cemburu, adik nya duluan punya motor darinya.. maksih banyak kakak ku, netes air mataku ini mengingat kebesaran hati dan kasih sayangmu padaku, walaupun kenyataannya aku sering buat kamu kecewa dan marah padaku karena sikap ku yang sering melawan kepadamu… ya Allah ampuni dosa ku ini !!!

Kemudian dengan penuh kasih sayang, kakak ke-6 ku rela untuk tidak jadi menjadi Juri pada MTQ tingkat Kabupaten Tanah Datar, demi menghadiri wisuda ku. Tatkala aku berada jauh darinya, selalu yang ia tanyakan keadaanku dan bekal (uang) untuk hidup sehari-hari ku di sana….

Itulah kenangan terindah yang membuat ku seperti sekarang ini…. Aku mengucapkan Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiiin, wujud rasa syukur ku kepada Allah yang telah memberiku keluarga yang sebaik dan berharga ini….

Wassalamu’alaikum…….

Last Updated (Friday, 13 May 2011 05:05)

 

Add comment


Security code
Refresh

Info Terbaru
HASIL LOMBA SEMARAK MUHARRAN XI

Alhamdulillah even Akbar yang diselenggarakan oleh OSIS SMP 5 Batusangkar dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriah 1439 H /2017 ini berjalan dengan lancar dan sukses, berkat dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak. Ucapan terima kasih yang dalam untuk semua pihak yang terlibat terutama para donatur tanpa disebutkan namanya satu persatu, yang telah membantu terselenggaranya even ini.

Dan juga pada para peserta yang begitu antusias mengikuti acara ini, terbukti dengan meningkatnya jumlah peserta dari tahun ke tahun .Lomba cerdas cermat  tingkat SD/MI Se-Sumatera Barat berjumlah 64 group, Nasyid Tingkat SMP/MTs Se-Sumatera Barat 42 Group , Story Telling Tingkat SMP/MTs sebanyak 59 orang dan Tahfiz 96 orang  , walaupun ditengah hujan lebat, namun acara tetap berjalan dengan lancar. Berikut daftar pemenang masing-masing lomba :

DAFTAR PEMENANG LOMBA CC, NASYID, STORY TELLING DAN TAHFIZ

FESTIVAL SEMARAK MUHARRAM KE-XI
SMP 5 Batusangkar kembali menggelar even Akbar yang selalu di adakan setiap tahun dalam rangka menyambut tahun baru Hijriah 1439 H/2017 M dengan tema :

“ SEMARAK MUHARRAM MERUPAKAN WADAH PENGEMBANGAN POTENSI DAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK YANG ISLAMI , seperti tahun -tahun sebelumnya even ini menggelar 4 jenis perlombaan yaitu LCC, Nasyid, Storry Telling dan Tahfiz.

Peserta LCC terdiri dari SD dan MI yang berasal dari sekolah dalam kabupaten Tanah datar dan luar kabupaten Tanah Datar yang diundang oleh Panitia, bekerjasama dengan UPT Dinas Pendidikan.

Peserta Nasyid, Story Telling, Tahfiz Tingkat SMP / MTs Se-Sumatera Barat berjumlah  45 Group berasal dari sekolah-sekolah di Sumatera Barat yang diundang oleh Panitia.

Kegiatan ini insyaallah akan diselenggarakan pada

Hari           :  Kamis, Jumat dan Sabtu

Tanggal      :  28 s.s 30 september 2017/ 8 s.d 10 muharram

Tempat      :  SMP Negeri 5 Batusangkar, Komplek Pendidikan Bukit Gombak.

Pendaftaran di mulai dari tanggal 4 September s/d 29 September 2017

Ayooo Buruan mendaftar,,,,,,!!!!

KETENTUAN LOMBA

LAGU NASYID

TAHUN INI SMP 5 BATUSANGKAR KEMBALI MEWAKILIPROPINSI SUMATERA BARAT KE TINGKAT NASIONAL

JUARA_I_LCC  JUARA_I_TAHFIZH

Penyerahan Piala Juara I LCC dan Tahfizh Pentas PAI Tahun 2017 kepada Kepala SMP 5 Batusangkar Drs. Hadmadi Sucipta, M.Pd

25/07/17 dilaksanakan kegiatan lomba Pentas PAI Tingkat Propinsi Sumatera Barat di Hotel Bunda, Jl Bundo Kanduang Padang. SMP 5 Batusangkar mewakili Kontingen Tanah Datar untuk seluruh cabang tingkat SMP, yaitu cabang MTQ (pa) atas nama Nabil Muhammad syani siswa kelas 7, dan (pi) Fathiyyah Arafah Afsya siswa kelas 9. Cabang LPP (pa)Muhammad Aqil Amri dan (pi) Dina Bastari Rahim siswa kelas 9. Cabang MHQ (pa) Raihan Refdian dan (pi) Ummul Hakimi siswa kelas 9, sedangkan untuk LCC Gita Oktensia Sandeni, Rahma Amalia dan Rahmi Afdelina ketiganya siswa kelas 9.

Setelah melalui TC untuk persiapan kegiatan tersebut yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama Kab. Tanah Datar Kamis/13/07/17 lalu Siswa SMP 5 Batusangkar terpilih mewakili Kontingen Tanah Datar ke tingkat Propinsi Sumatera Barat untuk tahun 2017.

Alhamdulillah berkat perjuangan dan kerja keras siswa/wi serta bimbingan dari guru dan Kepala Sekolah dan tidak kalah pentingnya dukungan penuh dari orang tua, SMP 5 Batusangkar berhasil menuju Tingkat Nasional mewakili Propinsi Sumatera Barat untuk Cabang LCC dan MHQ Putri atas nama Ummul Hakimi yaitu siswa yang juga baru kembali dari tingkat Nasional Padang cabang OSN IPA pada bulan Mei lalu di Pekan Baru, dan siswa ini juga pemenang Pentas PAI tahun 2016 lalu. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan karena tahun ini Ummul Hakimi kembali mewakili Propinsi Sumatera Barat ke tingkat Nasional semoga berhasil...!!!

UMMUL HAKIMI LOLOS OSN IPA KE TINGKAT NASIONAL

ummu_hakimiRabu,24/05/17, SMP 5 Batusangkar mendapatkan berita gembira, dari 3 cabang OSN yang di ikuti di Padang tanggal 13 Mei 2017 kemaren salah satu nya lolos ke Tingkat Nasional yaitu cabang IPA atas nama Ummul Hakimi siswa kelas 8.3  anak kandung dari guru Pendidikan Agama Islam di SMP 5 Batusangkar yaitu putri dari Zulhermi, S.Ag. Ummul hakimi juga merupakan pemenang lomba Pentas PAIS tahun 2016 lalu, juara 1 lomba Tahfizh tingkat Propinsi dan Juara II lomba IPA tingkat Propinsi di SMA 3 Batusangkar.

Dan kali ini Ummul Hakimi berhasil lolos seleksi untuk OSN IPA ke tingkat Nasional yang akan di selenggarakan di Pekan Baru pada bulan Agustus mendatang, setelah mengikuti pelatihan di Padang selama satu minggu. Berkat usaha dan kerja keras serta bimbingan dari guru mata pelajaran Dra. Desnimar dan Erismen Umar, S.Pd dan dukungan penuh dari Kepala Sekolah, Komite dan orang tua semoga Ummul Hakimi mampu bersaing di tingkat Nasional dan memperoleh hasil yang sangat memuaskan dan membawa harum nama SMP Negeri 5 Batusangkar.

MEWARISKAN SIM UNTUK ANAK

YUSRIJAL DT. MAKHUDUN  

(GURU SMPN 5 BATUSANGKAR)

Ketika menanam bawang, banyak tantangan yang dihadapi seorang petani. Musim kemarau  menyebab persediaan air berkurang sehingga  tanah menjadi kering kerontang. Kabut yang menyelimuti ladang  pada pagi hari merupakan sesuatu yang mencemaskan. Akibatnya, daun menjadi busuk dan layu. Buah yang bernas semakin  jauh dari yang diharapkan.

Menyikapi hal itu, sang petani berusaha untuk mengatasinya dengan berbagai upaya secara maksimal. Setiap kali kabut muncul di pagi hari, sang petani langsung terjun ke ladang untuk menyemprot tanamannya. Bila air mulai berkurang, petani berusaha mencukupi airnya. Tak kalah pentingnya  adalah pemupukan dan pemeliharaan dari  gangguan hewan di sekilarnya. Hal itu dimotivasi oleh adanya secercah harapan di masa datang. Bawang yang subur berbuah bernas, besar dan ranum, itulah harapannya.

Seperti fenomena di atas, orang tua juga memiliki tantangan yang tidak  ringan dalam mendidik anak-anaknya. Fenomena perilaku masyarakat telah terkontaminasi, tayangan televisi yang tidak mendidik merupakan kerikil-kerikil tajam dalam mendidik anaknya. Hal itu ditambah lagi dengan kemampuan orang dalam memahami perkembangan dan keinginan anak yang masih rendah. Akan tetapi, tantangan tersebut harus dihadapi sehingga perjalanan mendidik anak berjalan dengan mulus.

Seberat apapun tantangan, usaha mendidik anak harus dijalankan karena sudah merupakan tanggung jawab utama orang tua. Karena itu, para orang tua hendaklah memahami tanggung jawabnya secara komprehensif. Tanggung jawab orang tua tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan, pakaian, dan perumahan, serta kesehatan anaknya. Lebih dari itu, orang tua  juga bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya yang meliputi spritualitas, intelektualitas, dan moralitas anak.

Mewariskan nilai-nilai sprituallitas merupakan hal yang utama yang harus dilakukan orang tua. Speritualitas adalah kenyakinan dalam hubungannya dengan sang pencipta (Achir Yani, 2000). Kebutuhan spritualitas bertujuan untuk mempertahankan atau mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama, serta kebutuhan untuk mendapatkan maaf dan pengampunan, mencintai, menjalin hubungan penih rasa percaya dengan Tuhan (Carson, 1989).

Penanaman keyakinan beragama kepada anak harus ditanamkan sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan. Penanaman itu berakibat positif terhadap perkembangan jiwa anak. Anak akan memiliki rasa agama dan kepedulian terhadap agamanya. Penanaman nilai aqidah dan pelatihan ibadah merupakan hal yang urgen bagi anak.  Anak akan memiliki kekuatan dan keteguhan rohani yang dahsyat dalam menyikapi problematika kehidupan.

Kelak anak akan menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya, apalagi dalam era kompetitif. Karena itu, anak perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Berbekal pengetahuan yang dimilikinya, anak akan mampu menghadapi berbagai persoalan. Dengan keterampilan khusus,  anak akan mampu hidup dan mempertahankan kehidupannya. Berbekal keterampilan anak akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti pangan, pakaian, perumahan, dan sebagainya. Karena itu, anak-anak kita hendaklah dibekali dengan nilai intelektualitas  berbarengan profesionalitas (life skill) yang dapat dibanggakan.

Seperti kita, anak-anak juga tidak bisa hidup sendiri. Anak-anak  membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupannya. Anak-anak senantiasa dilatih bersosialisasi dengan lingkungannya sehingga mampu merasakan bahwa mereka merupakan bagian dari lingkungannya.  Sebagai orang tua kita berkewajiban mewariskan sifat-sifat rasulullah, seperti sidiq, amanah, tabligh, dan fathonah.

Nilai moralitas yang dimilikinya mampu menjadi pengendali bagi anak baik dalam berpikir, berbicara, maupun dalam bertingkah laku.  Moralitas yang dimiliki anak memungkinkan anak mampu menyesuiaikan diri  dengan masyarakat di lingkungannya. Moralitas yang terpuji membuat anak disukai dan dijadikan panutan oleh lingkungannya. Anak akan diterima  dengan tangan terbuka oleh lingkungan dimana dia berada.

Begitu pentingnya ketiga aspek di atas, sudah seharusnya orang tua mewariskan nilai-nilai  tersebut kepada anak-anaknya.  Dengan spritualitas yang memadai, anak akan tetap berada pada koridor kebenaran dan mampu menjalankan syariat agama dengan baik. Dengan intelektulitas dan profesionallitasnya, anak-anak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya baik fisik maupun nonfisik. Berbekal moralitas, anak-anak akan selalu berbuat yang terpuji dan mulia, serta berakhlkul karimah.

Penanaman dan pewarisan nilai SIM (Spritualitas, Intelektualitas,  Moralitas)  tersebut membutuhkan kesadaran yang tinggi dan komitmen yang kuat dari orang tua. Tidak kalah pentingnya, orang juga hendaklah  memberikan motivasi dan keteladanan kepada anaknya sehingga pewarisan nilai-nilai tersebut tidak hanya sebatas angan. Teruslah menjadi teladan dan motivator bagi anak-anak kita! Semoga!

Majelis Guru & Staf
  • An Majelis Guru & Staf
  • An Majelis Guru & Staf
  • An Majelis Guru & Staf
  • An Majelis Guru & Staf
  • An Majelis Guru & Staf
  • An Majelis Guru & Staf
  • An Majelis Guru & Staf
  • An Majelis Guru & Staf
  • An Majelis Guru & Staf
  • An Majelis Guru & Staf
  • An Majelis Guru & Staf
  • An Majelis Guru & Staf
  • An Majelis Guru & Staf
  • An Majelis Guru & Staf
  • An Majelis Guru & Staf
  • An Majelis Guru & Staf
Pendidikan Online

bse

BSE Depdiknas

edu

Edukasi Online

artipend

Artikel Pendidikan

Web Admin

EMAIL

Email SMP

ADMIN

Admin Website

Waktu Anda
Informasi Link

nisn

nuptk

lunas

sertifikasi-guru